SEKILAS INFO
: - Sabtu, 05-12-2020
  • 4 bulan yang lalu / SEGENAP CIVITAS AKADEMIKA STIQ AN-NUR LEMPUING OKI MENGUCAPKAN SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA 1441 H 2020 MASEHI
  • 8 bulan yang lalu / UNTUK MEMUTUS RANTAI PENYEBARAN VIRUS COVID-19 MAKA PERKULIAHAN DILAKSANAKAN DARI RUMAH SAMPAI DENGAN ADANYA PENGUMUMAN DARI DIKTIS. MAHASISWA DIHARAPKAN TURUT BERPERAN DALAM MEMBERI PEMAHAMAN TERKAIT HAL TERSEBUT KEPADA MASYARAKAT SEKITAR
  • 1 tahun yang lalu / Diberitahukan kepada seluruh mahasiswa bahwa kuliah perdana STIQ AN-NUR Lempuing Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir dimulai pada Senin, 23 September 2019
ISTILAH VIRUS/PANDEMI DALAM AL QUR`AN

ada 5 tempat ditemukan pembahasan mengenai virus di dalam Al-Qur’an. Sementara dalam penyebutan virus, Al-Qur’an cenderung membaginya ke dalam dua kelompok. Pertama, ada yang tidak dikasih nama. Dan kedua, ada yang diberi nama, namun dengan sebutan yang lain,” terang Abdul Mutaali dalam Dialog Ramadan 1441 H bertema “Urgensi Fiqh Covid-19” yang diselenggarakan Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Nursiah Daud Paloh (NDP) – Media Group secara daring, Senin, 4 Mei 2020.

Ayat-ayat Al-Qur’an yang mengandung pembahasan mengenai virus itu terdapat dalam QS. Al-Baqarah: 26, Al-Baqarah: 243, Al-Baqarah: 249, Hud: 64-65, dan Al-Anbiya: 83-84.

Baca: Beragama Harus Berbasis Ilmu Pengetahuan

QS. Al-Baqarah: 26

إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلًا مَا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا
“(Sesungguhnya Allah tidak segan (tidak malu) membuat perumpamaan seekor nyamuk atau lebih kecil dari itu.”

“Yang menarik adalah lafaz fama fauqaha, yang lebih kecil dari nyamuk. Itu adalah virus,” kata sosok yang juga penulis buku “Fiqh Covid-19” tersebut.

Dalam bukunya, Abdul Mutaali menerangkan, kata ba’uudhah (nyamuk) pada ayat tersebut berposisi sebagai objek. Artinya, objek yang sangat kecil itu adalah perumpamaan yang Allah Swt. Dengan makna lain, Allah Maha besar, pemilik semesta dari mulai yang kecil sampai yang terbesar.

Sebagai Tuhan, Allah Swt tak malu memperkenalkan makhluk yang sangat kecil, bahkan yang lebih kecil dari itu seperti Corona Virus Diseases-19 (Covid-19) yang besarnya hanya 125 nanometer atau 0,125 mikrometer.

“Saat ayat ini diturunkan, Rasulullah Muhammad mendapatkan ejekan dan hinaan dari kaum kafir. Mereka bilang, kenapa tuhanmu menciptakan makhluk yang kecil-kecil?” kata Abdul Mutaali.

Mereka, kata Abdul Mutaali, tidak sadar. Kemampuan mencipta makhluk dari yang besar hingga yang kecil sekaligus memiliki variabel lengkap justru menunjukkan keagungan Allah Swt sebagai Sang Maha Pencipta.

“Dalam Tafsir Jalalain diterangkan, makin maju pencapaian seseorang, produk yang ditemukannya makin kecil. Pada 1947, CPU komputer berbentuk sangat besar, tapi dalam pengembangannya, justru prosesor dikembangkan dalam bentuk yang kian kecil,” kata dia.

Baca: Tafsir Al-Mishbah: Mengapa Al-Qur’an Berbahasa Arab?

QS. Al-Baqarah: 243

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ خَرَجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَهُمْ أُلُوفٌ حَذَرَ الْمَوْتِ فَقَالَ لَهُمُ اللَّهُ مُوتُوا ثُمَّ أَحْيَاهُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَذُو فَضْلٍ عَلَى النَّاسِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَشْكُرُونَ

“(Tidakkah kamu memperhatikan orangorang yang keluar dari kampung halamannya, sedang jumlahnya ribuan karena takut mati? Lalu Allah Swt berfirman kepada mereka, ‘Matilah kamu!’ Kemudian Allah menghidupkan mereka. Sesungguhnya Allah memberikan karunia kepada manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.”

Abdul Mutaali menjelaskan, dalam tafsir Ibnu Katsir dan At-Thabari, asbabun nuzul ayat ini dirujuk pada riwayat Abdullah bin Abbas, bahwa saat itu ada 4.000 orang dari Bani Israel yang keluar dari kampung Dawardan, dekat Irak, lantaran takut tertular virus.

Mereka melakukan migrasi ke wilayah lain. Tetapi, justru di wilayah yang baru itulah mereka tewas.

Ajaibnya, informasi keluarnya Bani Israel dari kampung demi menghindari epidemi virus itu berdasarkan petunjuk diksi hadzaral maut (takut mati).

“Kata hadzaran (takut mati) berbeda dengan diksi takut mati yang lain dalam khazanah kosa kata bahasa Arab seperti khaufan (khawatir) atau khasyyatan (Takut),” tulis Abdul Mutaali.

Baca: 5 Sikap Nabi Menghadapi Wabah dan Penderita Penyakit Menular

QS. Al-Baqarah: 249

فَلَمَّا فَصَلَ طَالُوتُ بِالْجُنُودِ قَالَ إِنَّ اللَّهَ مُبْتَلِيكُمْ بِنَهَرٍ فَمَنْ شَرِبَ مِنْهُ فَلَيْسَ مِنِّي وَمَنْ لَمْ يَطْعَمْهُ فَإِنَّهُ مِنِّي إِلَّا مَنِ اغْتَرَفَ غُرْفَةً بِيَدِهِ ۚ فَشَرِبُوا مِنْهُ إِلَّا قَلِيلًا مِنْهُمْ ۚ فَلَمَّا جَاوَزَهُ هُوَ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ قَالُوا لَا طَاقَةَ لَنَا الْيَوْمَ بِجَالُوتَ وَجُنُودِهِ ۚ قَالَ الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلَاقُو اللَّهِ كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ

“(Maka ketika Thalut membawa bala tentaranya, dia berkata, ‘Allah akan menguji kamu dengan sebuah sungai. Maka barang siapa meminum (airnya), dia bukanlah pengikutku. Dan barang siapa tidak meminumnya, maka dia adalah pengikutku kecuali menciduk seciduk dengan tangannya.’ Tetapi mereka meminumnya kecuali sebagian kecil di antara mereka. Ketika dia (Thalut) dan orang-orang yang beriman bersamanya menyeberangi sungai itu, mereka berkata, ‘Kami tidak kuat lagi pada hari ini melawan Jalut dan bala tentaranya’. Mereka yang meyakini bahwa mereka akan bertemu dengan Allah berkata, ‘Betapa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah’. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.”

Mengutip Rasyid Ridha dalam Tafsir Al-Manar, Abdul Mutaali menjelaskan bahwa pasukan yang meminum di sungai tersebut justru tambah merasakan haus dan kering di bagian tenggorokan. Tidak berhenti di situ, yang paling akut adalah tubuh sebagian pasukan Thalut menjadi lemah dan merasakan demam yang sangat tinggi.

“Makna ini didapat dari dua diksi; mubtaliikum, yakni Allah mengujimu dengan bala’ (penyakit) dan binahar (sungai). Kalimat mubtaliikum (Allah mengujii kalian) berasal dari kata balaa yang artinya musibah atau ujian. Dalam beberapa kamus balaa juga biasa diartikan dengan Aahaat atau virus,” tulis dia.

QS. Hud: 64-65

وَيَا قَوْمِ هَٰذِهِ نَاقَةُ اللَّهِ لَكُمْ آيَةً فَذَرُوهَا تَأْكُلْ فِي أَرْضِ اللَّهِ وَلَا تَمَسُّوهَا بِسُوءٍ فَيَأْخُذَكُمْ عَذَابٌ قَرِيبٌ. فَعَقَرُوهَا فَقَالَ تَمَتَّعُوا فِي دَارِكُمْ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ ۖ ذَٰلِكَ وَعْدٌ غَيْرُ مَكْذُوبٍ

“(Dan wahai kaumku! Inilah unta betina dari Allah, sebagai mukjizat untukmu. Sebab itu bukanlah dia makan di bumi Allah dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apa pun yang akan menyebabkan kamu segera ditimpa (azab).[64]. Maka mereka menyembah unta itu, kemudian dia (Shaleh) berkata, ‘Bersukarialah kamu semua di rumahmu selama tiga hari. Itui adalah janji yang tidak dapat didustakan. [65]”

Abdul Mutaali menyebutkan, dalam beberapa kitab tafsir menceritakan kaum Tsamud meminta kepada Nabi Shaleh untuk bisa mengeluarkan anak unta dari sebuah batu sebagai bukti kemukjizatannya. Atas izin Allah, akhirnya anak unta pun ia keluarkan dari batu tersebut.

Nabi Shaleh kemudian membuat beberapa aturan terkait unta mukjizatnya. Pertama, jangan menganggu unta tersebut dan biarkan dia merumput. Kedua, membuat jadwal penggunaan air. Sehari untuk unta, sehari untuk masyarakat. dan ketiga, tidak boleh menyakiti unta tersebut, khawatir hal itu akan membuat Allah menurunkan azab.

Sayangnya, kaum Tsamud melanggar ketentuan itu, bahkan membunuh unta tersebut.

“Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa selama tiga hari Allah Swt menurunkan azab kepada kaum Tsamud. Sebelum turun azab pada hari keempat, terjadi perubahan pada wajah kaum Tsamud. Pada hari pertama, wajah mereka berubah menjadi kuning. Hari kedua, berubah menjadi merah. Hari ketiga, wajah mereka menjadi hitam. Akhirnya, pada hari keempat datanglah petir dan gempa,” tulis Abdul Mutaali.

Menyitat keterangan Imam Zamakhsyari dalam Tafsir Al-Kasyyaf, Abdul Mutaali menerangkan bahwa kaum Tsamud tertransmisi penyakit menular yang sangat ganas.

Menariknya, adanya wacana virus pada ayat 64-65 surat Hud ini berdasarkan hadirnya representasi semantis pada kalimat wa laa tamassuuha bisuu’in (jangan kalian sentuh unta tersebut dengan buruk).

“Tindakan buruk terhadap unta mukzijat tersebut dengan beberapa cara, seperti menyentuh bukan pada waktunya, serta minum berbarengan dengan unta tersebut dari air yang sama. Transmisi virus di antaranya dengan persentuhan. Dan virus yang menular antar manusia sekaligus mematikan biasanya berawal dari hewan,” tulis dia.

Baca: Tafsir Al-Mishbah: Beda Kegembiraan di Dunia dan di Surga

QS. Al-Anbiya: 83-84

وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُۥٓ أَنِّى مَسَّنِىَ ٱلضُّرُّ وَأَنتَ أَرْحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ. فَٱسْتَجَبْنَا لَهُۥ فَكَشَفْنَا مَا بِهِۦ مِن ضُرٍّ ۖ وَءَاتَيْنَٰهُ أَهْلَهُۥ وَمِثْلَهُم مَّعَهُمْ رَحْمَةً مِّنْ عِندِنَا وَذِكْرَىٰ لِلْعَٰبِدِينَ

“Dan (ingatlah) kisah Ayyub, ketika dia berdoa kepada Tuhannya, ‘(Ya Tuhanku), sungguh aku telah ditimpa penyakit, padahal engkau Tuhan yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang. [83]. Maka Kami kabulkan (doa)nya. Lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan (Kami lipat gandakan jumlah mereka), sebagai suatu rahmat dari Kami, dan untuk itu menjadi peringatan bagi semua yang menyembah. [84].”

Tentang ayat ini, Abdul Mutaali menjelaskan, wacana virus bisa dipahami dari representasi semantis pada kalimat annii massaniya ad-dhur (aku tertimpa penyakit menular).

Interpretasi adanya penyakit menular atau virus dalam penderitaan Nabi Ayyub pada ayat tersebut dikonstruksi dari dua hal. Pertama, diksi massaniya (aku tertimpa) yang berasal dari verba trikonsonantal derivative massa-yamus-su, jika dipasangkan dengan subjek atau keterangan negatif lainnya, kecenderungannya bahwa massayamussu tersebut bermakna virus atau penyakit menular.

“Hal itu mirip dengan virus untanya Nabi Shaleh pada ayat 65 surat Hud,” tulis dia.

Bagikan :

TINGGALKAN KOMENTAR

Maps Kampus