SEKILAS INFO
: - Sabtu, 05-12-2020
  • 4 bulan yang lalu / SEGENAP CIVITAS AKADEMIKA STIQ AN-NUR LEMPUING OKI MENGUCAPKAN SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA 1441 H 2020 MASEHI
  • 8 bulan yang lalu / UNTUK MEMUTUS RANTAI PENYEBARAN VIRUS COVID-19 MAKA PERKULIAHAN DILAKSANAKAN DARI RUMAH SAMPAI DENGAN ADANYA PENGUMUMAN DARI DIKTIS. MAHASISWA DIHARAPKAN TURUT BERPERAN DALAM MEMBERI PEMAHAMAN TERKAIT HAL TERSEBUT KEPADA MASYARAKAT SEKITAR
  • 1 tahun yang lalu / Diberitahukan kepada seluruh mahasiswa bahwa kuliah perdana STIQ AN-NUR Lempuing Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir dimulai pada Senin, 23 September 2019
Nuzulul Qur`an di Masa Covid 19
Imam Ibnu Katsir saat menafsirkan al-Qur’an surat al-Baqarah 185 dalam Tafsir al-Qur’an al-Adzim yang dinilai sebagai salah satu tafsir yang paling shahih diantara kitab-kitab tafsir lain.
Al Qur`an diturunkan di bulan Ramadhan bermakna dua hal sekaligus:
Pertama, Al Qur`an diturunkan dari Allah SWT ke lauh al-mahfuzh secara keseluruhan di salah satu malam di bulan Ramadhan yaitu tepatnya pada malam lailatul qadr sebagaimana firman-Nya:
إِنَّآ أَنزَلْنَٰهُ فِى لَيْلَةِ ٱلْقَدْرِ
Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.

Kedua, al-Qur’an mulai diturunkan secara berangsur-angsur juga di bulan Ramadhan.

Makna kedua inilah yang diperingati oleh umat islam sebagai malam nuzul al-Qur’an pada tanggal 17 Ramadhan.
Saat nabi Muhammad SAW didatangi jibril ketika ber-tahannuts dan ber-uzlah di Gua Hira,- Gua yang terletak di atas bukit yang kurang lebih 2 km dari pusat kota Makkah.
Tahannuts,- sebagaimana dijelasman dalam hadits riwayat al-Bukhari dan Muslim adalah beribadah selama beberapa hari di tempat tertentu.
Namun tahannuts yang dilakukan Rasulullah SAW ini disertai dengan ‘uzlah yaitu mengasingkan diri.
Uzlah yang dilakukan Muhammad sebelum resmi diangkat menjadi Nabi ini berangkat atas keprihatinan beliau akan kondisi masyarakat Jahiliyah yang semakin jauh dari kebenaran-kebenaran aqidah, syariah hinggal etika dan moral.
Di masa muda Rasulullah SAW cukup menjauhi kegiatan-kegiatan masyarakat yang sarat akan kesyirikan dan kebobrokan moral saja seperti judi, pesta mabuk-mabukan, dan ritual-ritual keagamaan saja. Tentu tujuannya agar terhindar dari keburukan-keburukannya.
Hal ini identik dengam social distancing yang diupayakan pemerintah untuk menghindari penyebaran pandemi pada awal maret lalu tepatnya saat pandemi mulai masuk ke Indonesia.
Namun karena makin tidak terhindarkan, akhirnya pemerintah mengeluarkan instruksi untuk melakukan physical distancing. 
Demikian pula Rasulullah SAW, karena kondisi masyarakat jahiliyah semakin parah maka beliau pun memilih untuk melakukan ‘uzlah ,- menyendiri dalam rangka menghindari keburukan-keburukan yang terjadi di Masyarakat. Bahkan dalam hadita disebutkan bahwa beliau tidak pulang kecuali untuk mengambil perbekalan yang beliau butuhkan untuk beribadah di Gua Hira (HR. Bukhari Muslim).
Rupanya physical distancing telah dilakukan oleh Rasulullah SAW dengan melakukan ‘uzlah ini. Sama-sama untuk menghindari keburukan yang terjadi di luar bukan karena tidak mau bersosialisasi dengan masyarakat.
Hanya saja tujuan ‘uzlah beliau untuk menghindari keburukan-keburukan yang bersifat non-fisik sedangkan physical distancing yang kita lakukan untuk menghindari penyakit yang gejalanya seringkali tampak secara fisik.
Lebih lanjut, ternyata saat melakukan physical distancing Rasulullah disibukkan dengan beribadah kepada Allah dan memikirkan realitas-realitas sosial agar beliau bisa mengambil tindakan untuk memperbaiki keadaan masyarakat.
Dengan petunjuk wahyu lah kemudian Nabi dibekali untuk melakukan hal itu. Bukan hanya untuk orang Makkah atau orang Arab. Pada akhirnya wahyu berupa al-Qur’an itu menjadi petunjuk manusia di berbagai tempat dan akan terus berlaku hingga akhir zaman kelak.
Demikian lah mestinya umat islam menghadapi pandemi ini. Mengikuti seruan pemerintah untuk melakukan physical distancing, tetap di rumah saja namun melakukan kegiatan-kegiatan positif yang bermanfaat baik buat diri sendiri maupun untuk orang lain.
Al Qur`an sebagai wahyu yang relevan diterapkan di berbagai ruang dan waktu perlu juga mendapat perhatian khusus saat Ramadhan di tengah pandemi ini. Bukan hanya karena semakin banyak waktu yang bisa digunakan bersama al-Qur’an tetapi juga agar mendapat petunjuk, ketenangan dan perlindungan dari Allah SWT.***
Bagikan :

TINGGALKAN KOMENTAR

Maps Kampus